Duo Victoria Legrand dan Alex Scally akan merilis follow-up setelah album sophomore-nya, “Devotion” , mendapat rave reviews dan pujian dimana-mana. Kita di Ripple sangat menyukai alunan vokal Legrand yang sedikit mengingatkan pada Hope Sandoval dan Edith Piaf. Used To Be yang direncanakan sebagai single dari album barunya menyelipkan sedikit distorsi dari sound analog minimalis yang biasa mereka mainkan. Untuk pecinta indie rock/dream pop, segera nantikan follow up berikutnya!
Maggots- Aceh
Bukanlah… Pidato atau janji/ Yang kami tunggu selama ini/ Tetapi gerakan niat yang nyata/ Dalam membangun rekonstruksi Aceh…
tulah teriakan dari sebuah band asal Aceh, Maggots dalam albumnya “Thanks To The World” pada lagu “Rekonstruksi Bukan Sampah”. Selama ini Aceh mungkin tersingkirkan dalam peta musik independen/ underground di pulau Sumatera yang banyak terpusat di Medan. Maka ketika seorang teman memberikan album ini, ada sedikit rasa penasaran menggumpal. “Ini dia Burgerkill-nya Aceh,” ujar seorang teman. Rasa penasaran tak lagi menggumpal tapi sudah menggunung. Kalau didengarkan band yang berpersonilkan Catzho (vocal), Error (vocal), Rudi (gitar), Daniel (gitar), Pani (bass), Roy (drum), Aulia (percussion), dan Surya G’bhel (sampling) ini memainkan musik metal modern dengan sentuhan etnis khas Tanah Rencong. Beberapa lagu menggunakan bahasa ibu mereka seperti pada lagu “Meu Damee” dan “Ampoen”, hingga penggunaan alat tradisionil khas Aceh yaitu serunekale. Kalau di Bandung, band seperti ini mungkin disematkan pada Authority yang memadukan gamelan dan musik hardcore. Penggunaan bahasa Aceh dan serunekale membuat nuansa musik Maggots agak berbau etnis, tapi bisa mengulitinya lewat kemasan yang cukup solid. Lirik, masih soal perlawanan orang Aceh akan keadilan yang ingin mereka terima dari pemerintah. Mungkin musik seperti ini bisa lebih berbicara dibandingkan separatisme. Asal mereka memiliki satu kunci penting: konsistensi terhadap sikap perlawanan yang mereka usung!
Management & Corespondence:
Jln. T. Dhi Long II, Lr Juroeng Raya No. 3 Kec. Banda Raya, Lhong Raya, Banda Aceh
Mobile: 08126929271
Booking Agency:
Roy: 085260017065
Rudi: 081360716461
Radio Silence
A Selected Visual History of American Hardcore Music
Nathan Nedorostek & Anthony Pappalardo
MTV Press, 500 Halaman
Ketika punk rock berevolusi menjadi hardcore di Amerika pada sekitar awal 80-an, anak muda yang menyukai musik-musik cepat dan sikap punk ini tetap berada pada sikap mereka yang rebellious dan anti-kemapanan. Semua mengkristal menjadi satu bentuk komunikasi baru. Salah satu yang bisa dilihat mungkin komunikasi non-verbal dalam bentuk fashion, attitude, media, dsb. Buku ini lah yang mendokumentasikan bentuk-bentuk komunikasi non-verbal tersebut. Bagaimana cerminan anak hardcore memakai sepatu docs, jeans, T-shirt, Chuck Taylor, Vans, dsb. Atau bagaimana bentuk-bentuk komunikasi visual lainnya macam photographs, illustrations, rare records, t-shirts, dan zines bisa menjadi cerminan estetika, etika, musik dan sikap hardcore itu sendiri.
(Idharrez)
You’ll find updates soon. ![]()


Latest Comments
RSS